Refleksivitas Profetik dan Mihwar Kegamangan KAMMI (Makalah Diskusi di UI, Jakarta)

oleh: Syarifudin, SIP *)

syarifudin

USIA organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) genap lima belas tahun pada 29 Maret 2013. Usia remaja bagi sebuah pergerakan mahasiswa, namun sepanjang itu pula KAMMI telah matang dengan berbagai pengalaman. Mengamati garis pertumbuhan KAMMI dari hari ke hari mengantarkan kita pada beberapa catatan penting.

Bernostalgia sejenak, KAMMI lahir (29 Maret 1998) dalam kondisi politik yang labil. Kala itu krisis ekonomi melanda bangsa Indonesia. Inflasi menembus batas toleransi. Konfigurasi kekuatan politik rezim Sueharto berada dalam titik nadzir kejatuhannya. Gerakan mahasiswa perlu berpikir dua kali sebelum secara massif mengkonsolidasikan diri. Pengalaman traumatis kekejaman rezim Orde Baru terhadap gerakan-gerakan subversif membuat gerakan mahasiswa sempat gamang.

Saat itu bibit-bibit organisasi KAMMI pun mengkonsolidasikan diri untuk menentukan sikap secara mandiri. Generasi KAMMI saat itu telah memiliki embrio dalam lembaga dakwah kampus yang tersebar di seluruh Indonesia. Jadi, basis pergerakan KAMMI sebenarnya telah ada sepuluh tahun lebih awal dari tahun kelahirannya 1998.

Para pendiri KAMMI menemukan momentum krisis ekonomi dan instabilitas politik sebagai saatnya melahirkan sebuah wadah gerakan mahasiswa yang tercerabut bebas dari gerakan mahasiswa Islam yang telah lahir sebelumnya seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dengan organisasi yang baru, KAMMI berharap memiliki kemerdekaan untuk bergerak dan tak memiliki beban psikologis dengan jaringan politik (senioritas alumni) yang saat itu sangat mengkooptasi gerakan-gerakan mahasiswa dan telah menggurita dalam struktur birokrasi.

Nah, di sinilah permasalahan itu bermula. Ketika KAMMI lahir dalam kondisi yang serba mendesak, desain gerakan KAMMI pun terbentuk untuk kepentingan pragmatis kala itu: menjatuhkan Sueharto! Desain pragmatis KAMMI di awal terbentuknya mempengaruhi corak gerakan Kammi hingga saat ini.

Ciri paling menonjol dari gaya pragmatis KAMMI  ialah gaya-gaya pengerahan massa ke jalan-jalan dalam menyuarakan aspirasinya. Tampaknya KAMMI perlu memperkaya cara penyaluran aspirasi tidak hanya melalui aksi massa. Gaya-gaya turun ke jalan mendominasi penyaluran aspirasi gerakan hingga saat ini. Sebagai ciri khas gerakan, hal itu sah-sah saja. Permasalahannya, satu dekade ke depan, jika pengerahan massa masih mendominasi gaya penyaluran aspirasi KAMMI, hal itu bisa mematikan banyak potensi puluhan ribu kader KAMMI dan  peluang kran aktivitas yang lain.

Dari State-Oriented ke CIvil Islam

Selama ini, pendefinisian “musuh” dalam tubuh KAMMI perlu ditinjau ulang. Dalam setiap aksi turun ke jalan, musuh bagi KAMMI adalah state (negara). Benarkah state selalu menjadi biang kerok permasalahan? Hal ini tentu memerlukan analisis lebih jeli. Misalnya saja dalam kasus kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Mengapa kenaikan BBM ditolak? Bukankah jika BBM tidak naik justru yang diuntungkan adalah perusahaan otomotif yang semuanya dari luar negeri, baik itu Jepang, Korsel, Eropa, atau AS. Untuk konteks saat ini, kenaikan BBM justru menguntungkan rakyat kecil.

KAMMI perlu lebih kritis dengan kebijakan pemerintah dan mencoba memperluas pendefinisian “musuh” itu termasuk suprastruktur nation state seperti lembaga IMF, World Bank, WTO, dan perusahaan multinasional (MNC). Bukankah kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini didikte oleh lembaga multinational tersebut. Perlu penanaman kesadaran kritis tentang ‘siapa musuh’ yang harus dilawan oleh KAMMI. Tidak hanya state yang selalu diserang tapi juga lembaga-lembaga suprastruktur nation state yang ternyata turut mengendalikan lahirnya kebijakan kenaikan BBM tersebut.

Selama lima belas tahun berdiri, KAMMI bersikap kritis terhadap semua penguasa. KAMMI pun tak segan meminta para penguasa turun, seperti di era Abdurrahman Wahid atau Megawati. KAMMI merupakan gerakan mahasiswa yang paling getol dengan agenda penjatuhan presiden. State dengan ikon presidennya menjadi arena pengkambinghitaman.

Satu dekade ke depan, KAMMI perlu memperluas kepedulian ranah gerakan hingga menyentuh pemberdayaan civil Islam (meminjam istilah Robert W. Hefner [Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia, Princeton University Press, 2000]) di Indonesia. 88 persen dari 220 juta penduduk Indonesia adalah muslim. Hal ini tentu menjadi lahan garap yang melimpah bagi KAMMI. Ada banyak hal yang bisa dilakukan pada 190 juta muslim di Indonesia. Tentu ada banyak masalah sehingga ada banyak hal yang dapat dikerjakan KAMMI. Bisa dalam bentuk pemberdayaan atau advokasi secara langsung pada civil Islam tersebut.

Pemberdayaan civil Islam oleh KAMMI akan menjadi basis pergerakan paska kampus alumni-alumni KAMMI nanti. Arena state terlalu pragmatis dan sempit untuk menjadi fokus pergerakan KAMMI di masa yang akan datang. Padahal ranah pemberdayaan civil Islam masih sangat luas dan belum tergarap.

Ketika KAMMI nanti memperluas sekup aktivitasnya pada civil Islam, kader-kader KAMMI akan bertemu dengan realitas masyarakat secara langsung. Ada banyak hal yang bisa dilakukan KAMMI dengan permasalahan-permasalahan seperti kemiskinan, anak jalanan, pengangguran, penggusuran, tenaga kerja wanita, buruh-buruh pabrik, perdagangan anak dan perempuan, hak asasi manusia, buruh tani, kekerasan dalam rumah tangga, dan permasalahan kaum tertindas (mustadafin) yang lain.

Perluasan gerakan KAMMI hingga menyentuh kebutuhan civil Islam akan memberikan cultural social modal bagi para aktivis Islam yang lain. Dan ini dapat berlangsung jangka panjang, tidak hanya sebatas saat menjadi aktivis KAMMI.

Refleksivitas Profetik

Menggabungkan ide Anthony Giddens (penggagas Jalan Ketiga dan director London School of Economics [LSE]) dan Prof. Kuntowijoyo (penggagas ilmu-ilmu sosial profetik [begawan sejarah Indonesia]); Refleksivitas bagi Giddens adalah ketika manusia memiliki ide maka ia akan berusaha mempengaruhi dan merubah kondisi yang ada agar tujuannya tercapai. Kuntowijoyo mengemukakan tesis tentang ilmu-ilmu sosial profetik dengan basis etos transendensi, liberasi dan humanisasi; kedua tokoh ini cukup memberi landas langkah KAMMI satu dekade ke depan.

Yang dilakukan KAMMI selama ini adalah wujud semangat refleksivitas profetik generasi awal yang terbatas karena masih bergerak dalam lingkup state oriented. Memperluas elan vital gerakan KAMMI di wilayah civil Islam akan semakin meningkatkan daya refleksivitas profetik KAMMI sebagai gerakan mahasiswa Islam. KAMMI layak menjadi pelopor untuk menerobos wilayah kerja gerakan mahasiswa yang selama ini hanya terkungkung dalam kampus tanpa memiliki akar tunjang ke dalam kebutuhan real masyarakat.

Dengan semangat liberasi, membebaskan manusia dari perbudakan manusia lain, maka paradigma KAMMI tentang ‘siapa musuh’ dan ‘siapa yang harus dibela’ menjadi lebih luas, tidak hanya state yang harus dikritisi tapi juga struktur sosial yang timpang. Dengan humanisme, memanusiakan manusia, gerakan KAMMI tak akan terlalu mechanic, tapi juga memberdayakan basis cultural civil Islam. Dan transendensi, menjadi tali pegang ideologis KAMMI dalam melakukan segala aktivitasnya. Inilah identitas Islam yang kaffah dan memiliki etos pembelaan terhadap kaum tertindas.

Potret KAMMI Hari Ini

Yang mengetahui lebih dalam tentang kondisi Kammi saat ini tentu kader-kader yang masih menjadi anggotanya. Tapi sepertinya kondisinya tidak jauh berbeda dengan satu decade silam, tentu dengan konteknya. Mungkin ini sesuatu yang bisa menjadi bahan diskusi yang menarik, terutama saat membicarakan perubahan arah gerakan beserta untung ruginya. Beberapa hal yang bisa menjadi catatan ialah:

Pertama, ikatan struktural Kammi dengan PKS masih menjadi kontroversi.

Jika AD/ART tidak menyebutkannya, namun diakui atau tidak, ikatan itu memiliki sistem control yang kuat dan absolute. Bukan sesuatu yang dapat dikompromikan lagi. Masyarakat umum, pengamat politik, dan media massa sudah memberikan penilaian yang cukup terang bahwa Kammi ya PKS. Titik.

Situasinya berbeda dengan PMII dan HMI. PMII, meskipun memiliki akar cultural NU, tapi tidak terkutubkan pada partai politik tertentu. HMI juga demikian. Kader-kader PMII dan HMI bisa masuk ke partai mana pun dan dapat diterima.

Kontrol PKS pada Kammi semakin terasa saat Muktamar Kammi yang bertepatan dengan pemilu. Maka ketua Kammi yang terpilih pun jelas yang sudah mendapat restu dari DPP PKS. Tanpa ada restu itu, sepertinya mustahil seorang ketua lolos menjabat. Pasca Muktamar pun Kammi akan menjadi sayap kepentingan dari PKS. Dulu di era awal periode, ada juga harapan agar control itu tidak terlalu absolute. Tapi ternyata tidak ada harapan lagi saat itu. Bagaimana dengan saat ini?

Kedua. Kegamangan merespon isu.

Kegamangan ini terjadi karena pengaruh faktor pertama juga. Saat kreatifitas sejumlah kader muncul untuk merespon suatu isu, maka bentuk respon itu pun harus dikompromikan dengan “supra-struktur” Kammi, yakni PKS. Jika isu yang digodok itu bertentangan dengan kepentingan PKS, maka siap-siaplah mendapat teguran keras dari para petinggi partai tersebut.

Kegamangan ini jika dibiarkan terus akan memicu keengganan merespon isu dan apatisme, hingga muncul sikap tunggu perintah “bos” atas saja. Kondisi ini menjadikan gerakan mahasiswa ini kehilangan kreativitas tempurnya. Ibarat burung liar yang telah dijinakkan, kehilangan suara “gacor”-nya. Baik “gacor” dalam gerakan jalanan atau pun “gacor intelektual.”

Berada di Mihwar Apa KAMMI Saat Ini?

Berikut ini adalah teori mihwar yang dicetuskan Rijalul Imam.

Ontologis Dakwah

Epistemologis Gerakan

Aksiologis KAMMI

Sistematika Gerakan

Jadwal Gerakan

Timing

Peran Strategis

Mabda’

Worldview

Kemenangan Islam adalah Jiwa Perjuangan KAMMI

Pandangan Hidup KAMMI

Masa Inkubasi

1980 – 1998

Penguatan ideologi Islam

Kebatilan adalah Musuh Abadi KAMMI

Masa Reformasi

1998 – 2004

Melawan Rezim Otoriter

Fikrah

Paradigma

Solusi Islam adalah Tawaran Perjuangan KAMMI

Konsepsi Tawaran Perubahan KAMMI

Masa Demokratisasi

2004 – 2009

Konseptualisasi Islam di semua Sektor Strategis

Manhaj

Metodologi

Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMMI

Pilihan Isu strategis dan Sikap Gerakan KAMMI

Mihwar Dauli I

2009 – 2014

Memperbaiki Negara dan Masyarakat di berbagai segi dan levelnya

Kepemimpinan adalah Strategi Gerakan KAMMI

Mihwar Dauli II

2014 – 2019

Memimpin Negara dan Masyarakat secara utuh

Persaudaraan adalah Watak Mu’amalah KAMMI

Mihwar ’Alami

2019 – 2024

Membangun Aliansi Strategis Dunia Islam

Kebetulan, saya sebenarnya tidak menganut pembagian mihwar semacam itu. Pembagian mihwar tersebut, setelah saya amati, mulai dari aspek ontologism, epistimologi dan aksiologi, jadwal gerakan, timing dan strategi gerakan juga sejak awal masih sangat debatable. Apalagi jika dilihat dalam konteks yang ada saat ini, tentu sudah sangat tidak up to date lagi. Maka, ketika kita hendak memperdebatkan tentang mihwar itu, memang sejak awal sebelum pentahapan itu dibuat, sudah banyak pertanyaan dan kita dapat melihat pendefinisian yang janggal atau aneh di tiap bagiannya. Jadi, silahkan setiap kader buat lagi yang baru yang lebih sesuai konteks dan akal sehat.

Namun jika pertanyaan itu tetap diajukan pada saya, “Di Mihwar apakah Kammi saat ini?” Mungkin saya akan menjawab, “Mihwar kegamangan ontology, epistimologi, dan aksiologi!”

Dengan bermodal “kegamangan” itulah semoga semua kader dapat merumuskan kembali arah gerakan organisasi yang mereka hidup-hidupi ini. []

Syarifudin, Alumni Kammi


[1] Untuk memantik diskusi di Depok, UI, Jakarta, 9 Maret 2013. Oleh: Syarifudin. Alumni Kammi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s