Muhammadiyah Kini dan Masa Depan (Di Tengah Pergulatan Ideologi Modern)

Oleh: Sumiaty S Makka *)

MEMBACA opini yang ditulis Kanda Djoko Susilo mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Radar Sulteng edisi Sabtu (18/6) berjudul Muhammadiyah Mahzab Lantai Tiga atau Empat, saya sedikit terhenyak, namun tidak begitu terkejut, atas apa yang diungkapkan oleh Kanda Djoko, atas segala fenomena ke-Muhammadiya-an saat ini. Maraknya, berbagai fenomena serta perkembangan pola pemikiran di kalangan Muhammadiyah, sudah menjadi sebuah tradisi bagi organisasi yang mengambil jalur pola dakwah moderat seperti halnya Muhammadiyah.

Hanya saja yang disayangkan, jika para kader dan aktivis Muhammadiyah, yang sejak awal telah menyatakan diri sebagai pendakwah dengan pola pembaharu, amar ma’ruf nahi munkar, serta menjadikan Ali Imran ayat 104 sebagai patron dakwah, pikirannya dicekcoki dengan pola pemikiran yang sudah mengarah pada kecenderungan sekulerisme yang diberi label Islam dengan pendekatan Liberalisme.

Jika di kalangan pimpinan pusat sudah mulai terdapat gap, antara Muhammadiyah fundamentalis’ dengan Muhammadiyah ‘Liberalis’, bagaimana dengan Muhammadiyah yang berada di Pulau Sulawesi ini? Masih lekat dalam ingatan saya, ketika peringatan Milad Muhammadiyah beberapa tahun silam, tiba-tiba saja Jamaah Masjid Al-Furqan (masjid di kompleks gedung Dakwah Muhammadiyah Sulteng), dikejutkan dengan pengakuan salah seorang tokoh yang mengaku setuju dengan gerakan dakwah yang diusung oleh KH Ahmad Dahlan sejak tahun 1912 silam, serta bertitel doctor dari Makassar, yang secara terus terang mengaku kalau ia adalah pemimpin tertinggi kalangan Islam Liberal untuk kawasan Indonesia Timur.

Tidak ada yang menyangkalnya, karena itu adalah haknya untuk mengaku apa saja yang ia inginkan. Tapi yang sungguh mengejutkan, dalam acara tanya jawab, sang tokoh yang mengaku sudah berada di Muhammadiyah sejak masih kanak-kanak, karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga Muhammadiyah itu, melontarkan berbagai pemikiran yang memiliki kecenderungan bertentangan misi dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Bahkan dengan
entengnya, ia mengatakan bahwa dengan perkembangan serta dinamika global saat ini, mestinya Muhammadiyah lebih mengglobal lagi dalam menerapkan pola dakwahnya, termasuk untuk bisa ‘mentolerir’ beberapa prinsip-prinsip dakwahnya. Bahkan jika memang dibutuhkan, beberapa ayat serta garis hukum yang ditetapkan oleh Rasululullah SAW, bisa ‘direvisi’ karena dianggap, akan mengganggu stabilitas Kamtibmas global.

Naudzubillahi Min Dzalik.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin banyak mendebat soal pemikiran yang dilontarkan sang tokoh tersebut, tapi paling tidak dari fakta di atas, memberikan gambaran bahwa, sudah sedemikian majemuk pola-pola pemikiran dalam lingkungan parsyarikatan berlogo Matahari dengan dua syahadat di sekililingnya tersebut. Hanya saja yang disayangkan, jika ternyata perkembangan pemikiran tersebut, justru semakin melencengkan para pendakwah Muhammadiyah dengan pondasi dasar yang dibangun oleh Pak Kiai Haji Ahmad Dahlan yang ingin memberantas penyakit TBC- Tahyul, Bid’ah dan Churafat di tengah-tengah masyarakat. Tidak heran dari berbagai fenomena yang melanda perkembangan pemikiran dalam kalangan Muhammadiyah ini, ada beberapa kawan saya yang baru saja mengikuti pelatihan Training Centre Taruna Melati Satu (TC TM I) sempat bergumam, bagaimana Muhamamdiyah akan tetap mengaungkan dirinya, sebagai gerakan tajdid amar ma’ruf nahi munkar, jika ternyata dalam kalangan Muhammadiyah saja, sudah mulai dicekcoki dengan penyakit ‘TBC modern’.

Lalu bagaimana dengan Muhammadiyah Sulteng? Mungkin saja karena posisi geografisnya yang belum terlalu ‘tersentuh’ dengan dunia modern, karena untuk akses informasi melalui jaringan internet saja masih menjadi sesuatu yang mahal, serta masih sulitnya mendapatkan bahan bacaan yang aktual, apalagi ditambah pola perilaku pergaulan dan interaksi yang belum semajemuk di Jakarta, Jogjakarta, Makassar serta kota besar lainnya, sehingga pemikiran dalam kalangan Muhammadiyah dan Ortomnya di tanah Kaili ini, belum menampakkan riak yang besar. Tapi bukan sesuatu yang mustahil, jika fenomena yang diungkapkan, oleh Kanda Djoko akan menimpa warga parsyarikatan di wilayah Central Celebes ini, jika saja para petinggi tabligh yang ‘berkuasa’ penuh dalam mengembangkan pola dakwah Muhammadiyah, serta kalangan tarjih dan pengembangan pemikiran Islam yang bertanggung jawab dengan masalah-masalah ubudiah, tidak turun tangan untuk berdakwah ‘dalam kalangan sendiri’.

Wallahul’alam Bish Shawab

*) Penulis adalah ketua Biro Dakwah Irmawati Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Sulawesi Tengah Sekaligus ketua Bidang Kajian Strategis KAMMI Komisariat Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s