KAMMI Tentukan Masa Depan Indonesia

artikel diambil dari milis KAMMI

oleh: Muhith Harahap *)

GambarGelombang reformasi menyapu pemerintahan orde baru secara radikal dari pola yang sentralistik-otoriter menjadi demokratis-terbuka. Euforia reformasi menandakan kelahiran nuansa baru di jagad Indonesia. Nuansa baru itu bernama demokrasi.

“Berseliwerannya” gerakan massa, gema tuntutan kebebasan politik, menjamurnya parpol, hingga terbangunnya kantong-kantong kritisme dimana-mana merupakan sebuah eskalasi yang tergolong cepat pasca Soeharto turun tahta. Sejarah mencatat, bahwa tidak mudah menjalani fase pasca kejatuhan rezim. Dalam rentang satu dasawarsa, reformasi mulai letih menanggung makna kesaktiaannya. Jika dampak dari reformasi adalah perbaikan kehidupan berdemokrasi, seharusnya perbaikan di sini mengandung sebuah dampak luas bagi perbaikan nasib rakyatnya.

Kenyataannya, skeptis dan pesimis menjadi opini masyarakat terhadap masa depan Indonesia. Ketidakpercayaan rakyat pada pemerintah, birokrasi dan bahkan pada mahasiswa menimbulkan penyakit krisis. Crisis of trust, crisis of morality, crisis of economic development menjadi sebab penyakit komplikasi berupa multiple dimension of crisis. Kelompok-kelompok pengusung reformasi, gerakan mahasiswa utamanya, dianggap sebagai aktor yang bertanggungjawab terhadap carut marutnya negeri ini.

Padahal seharusnya gerakan mahasiswa harus mampu menyemai perubahan baru, menjawab ketidakpastian masa depan bangsanya.

Realitas Ironi Indonesia

Multiple dimension of crisis is a new reality that must be faced. Realitas Hukum, dimana persoalan kultur hukum menyebabkan penegakannya tidak pernah efektif dan kental nuansa diskriminatif. Skeptis masyarakat terbentuk saat mafia hukum, secara telanjang terekam jejaknya dengan sangkaan dan dakwaan korupsi atau suap. Hukum seolah dapat dimainkan, dipelintir, bahkan hanya berpihak pada mereka yang memiliki status sosial yang tinggi. Penegakan Hukum yang lemah ini menjadi daftar evaluasi dengan nilai merah. Kewaspadaan yang perlu dibangun adalah jangan sampai wajah hukum semakin bopeng, karena bulat lonjongnya dipengaruhi kepentingan politik, lebih khusus pemilu 2009.

Economic crisis menjadi persoalan yang rumit. Serumit dampaknya. Porsi pembangunan yang diberikan pada ekonomi makro, malah melilit negeri ini dengan tunggakan hutang dan agunan bunga. Saat rakyat rela mati demi antri sembako, mafia kapitalis membuat jaringan dengan pejabat. Pejabat ikut berbinis, dengan kata lain sang regulator sekaligus juga merangkap sebagai operator ekonomi. Akhirnya, proyek-proyek pemerintah menjadi lahan broker untuk memuluskan bisnis-bisnis mereka.

Kemiskinan, penggangguran merupakan masalah klasik yang selalu melekat dan menjadi ciri khas Negara Indonesia. Yang jelas, produk kebijakan pemerintah tentang kenaikan BBM, tentang konversi minyak, dan banyak lainnya menyuguhi kita dengan realitas penderitaan rakyat miskin. Ribuan nelayan tak melaut karena BBM langka atau harganya melangit. Pengusaha kecil gulung tikar. Harga produk yang dihasilkan petani terus merosot padahal harga kebutuhan pokok merangkak naik dan kian menggerogoti daya beli masyarakat kebanyakan.

Krisis di segala penjuru alias krisis multidimensi ini berakar pada krisis kepemimpinan. Pentas kepemimpinan Indonesia masih dipegang oleh orang-orang dan kelompok-kelompok yang tidak memiliki kapasitas membangun rakyat. Negeri ini dipenuhi gembong koruptor, yang menghisap habis kekayaan alam dan potensi rakyatnya. Kenyataannya politisi negeri ini masih menyuguhkan tayangan yang sama, kebijakan yang sama, ketidakjelasan yang sama. Mesin-mesin politik menjadi berkarat karena gagal memproduksi pahlawan penyelamat bangsa.

KAMMI Mengambil Posisi

Dari sudut pandang kebangkitan, kita menemukan realitas bangsa yang menyakitkan. Banyaknya politisi dan aparatur hukum yang terlibat kasus korupsi, kenaikan BBM, meroketnya harga kebutuhan pokok, intrik hingga anarkisme pilkada, serta fenomena tingginya angka golput, menunjukan bahwa negeri ini diselimuti kekalutan luar biasa.

Politik kekinian, pasca reformasi menunjukkan perubahan-perubahan yang signifikan. Pemerintah jauh lebih transparan, kekritisan diakomodir, pemilu dilakukan secara langsung. Perubahan-perubahan tersebut akhirnya membuat gerakan mahasiswa menjadi gamang. Tidak adanya ‘musuh bersama’ pada tahun 1998, menjadi alasan utopis yang melegitimasi kebingungan arah gerak. Bahkan tak jarang gerakan mahasiswa berubah menjadi gerakan pragmatis, yang mendekat pada kepentingan intrik-intrik elit.

Ditengah permasalahan rakyat yang makin menumpuk, maka tidak ada yang perlu didialogkan terhadap eksistensi gerakan mahasiswa. Peran oposisi dalam arena sosial kontrol, masih relevan menjadi milestone gerakan mahasiswa. Namun, gerakan mahasiswa memang harus memiliki kemampuan dalam membaca jaman, dan memiliki political content yang jelas.

KAMMI sebagai bagian dari creative minority harus merumuskan tafsir baru tentang oposisi. Oposisi sepertinya sudah tidak bisa lagi menggunakan penafsiran umum. Dimana oposisi dipahami sebagai suatu reaksi hitam putih, anti terhadap realitas dengan memiliki kecenderungan tidak konstruktif. Tafsir baru terhadap gerakan oposisi harus dirumuskan sebagai keoposisian yang dibangun atas dasar ketidaksepakatan terhadap nilai/produk/kebijakan yang menjurus pada ketidakadilan dan ketertindasan dengan kebutuhan dalam pencapaian mewujudkan cita-cita bersama, tidak terjebak pada hal-hal yang sifatnya temporer.

Kepemimpinan kaum muda merupakan sebuah wacana yang menunjukkan kemampuan membaca permasalahan negeri ini. Gerontokrasi yang berkolaborasi dengan kleptokrasi, membuat negeri ini diakusisi oleh orang-orang tua yang anti-perubahan. Instrumen-instrumen politik pun tidak memberi kesempatan kiprah kaum muda untuk memimpin negeri ini. Sedangkan idealisme kaum muda, seyogyanya bahwa kepemimpinan itu direbut bukan dihadiahi oleh elit.

KAMMI sebagai gerakan progresif harus lebih memimpin kematangan wacana dan mampu membawa eksistensi gerakan diantara elemen ekstraparlementer lainnya. KAMMI wajib tampil sebagai leader gerakan dengan dialektika yang mumpuni. Oleh karenanya, intelektualitas kader-kader KAMMI harus terbangun secara matang. Kepakaran softskill leadership harus diimbangi dengan core competence keilmuan kader. Maka, tidak diragukan lagi KAMMI akan menjadi basis pergerakan yang menghasilkan pemimpin-pemimpin muda berkapasitas.

Soliditas KAMMI mesti terbangun dari struktur pusat hingga daerah. Sejumlah 44 KAMMI daerah, dengan sistem internal yang efektif, maka KAMMI akan memiliki bargaining gerakan yang diperhitungkan. Soliditas gerakan akan terbangun dengan content isu yang sama, konsolidasi yang masif, serta backup kaderisasi yang sistematis dan terstandarkan.

Kekuasaan yang sekarang terdesentralisasi di daerah (atau dikenal dengan otonomi daerah) harus menjadi perhatian ladang garapan KAMMI daerah. Tujuan Otonomi daerah adalah agar tercipta pembangunan yang merata berbasis potensi daerah, nyatanya malah memunculkan raja-raja kecil bermental korup di daerah. Eksistensi gerakan KAMMI sebagai gerakan sosial kontrol harus mampu mengawal pemerintahan daerah agar kebijakan setempat memberikan kemanfaatan untuk kesejahteraan rakyat.

Kunci eksistensi gerakan ekstraparlementer adalah independensinya terhadap kepentingan elit-elit politik. Salah satu penyebab kelemahan perjuangan gerakan mahasiswa adalah saat organisasi ataupun personelnya mendapat ‘sumbangan’, ‘amplop’, atau apapun namanya, dari pihak-pihak yang berkepentingan. Agar idealisme KAMMI tetap lantang, maka hentikan tindakan mengemis dana dari para pejabat.

KAMMI adalah sebuah organ dengan kader-kader cerdas di dalamnya. Sebuah organisasi yang hebat, yang mampu membiayai pula kepentingan operasionalnya. Dengan kapasitas-kapasitas intelektual mahasiswa, KAMMI harus cermat pula membangun kapasitas enterpreneurship. Apalagi perkembangan teknologi berbasis content, seperti technoentrepeneurship telah menjadi tren dan biasanya dikembangkan oleh para mahasiswa.

Gerakan mahasiswa memiliki maknanya ketika ia berjuang untuk kepentingan rakyat. Selama KAMMI konsisten dalam membela kepentingan rakyat, maka ia akan menjadi gerakan yang mampu mendesakkan agenda perjuangan untuk sebuah perubahan. Melihat perjalanan Indonesia dari masa ke masa, maka kita melihat sejarah yang ditulis oleh kaum muda. Saatnya tiap kita untuk tidak hanya bersiap menjadi generasi penerus, tapi juga generasi pengganti seperti yang Allah janjikan dalam Al-Qur’am; Menggantikan wajah-wajah usang negeri ini yang justru lebih banyak merusak daripada membangun, serta menggiring masyarakat dalam pelukan Islam di mana mereka akan menemukan cahaya penerang kehidupan.

KAMMI adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari, dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip, dan mampu mentransformasikan masyarakat.

*) Penulis adalah Ketua Umum KAMMI Semarang 2006-2008, sekarang bekerja di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Makalah ditulis dalam rangka memenuhi undangan KAMMI Jabar, 26 Oktober 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s