Transformasi Kaum Muda Islam Indonesia

Catatan Penyunting: Tulisan ini diambil dari milis KAMMI dan merupakan versi ringkas dari tulisan yang lebih panjang: “Transformasi Kaum Muda Indonesia”

oleh: Bramastyo Bontas Prastowo *)

GambarZAMAN yang berubah cepat kaum muda Islam di Indonesia sebagai yang terbesar, diminta untuk mengambil tindakan-tindakan yang bertendensi ke masa datang. Setiap kita diminta untuk melibatkan diri dalam suatu kelompok entitas, apakah kita sebagai entitas bangsa atau sebagai entitas kesadaran..

Semua hal tersebut menandakan bahwa ada sebuah persimpangan yang rumit di hadapan kita dan juga suatu pertaruhan yang melibatkan tidak hanya satu generasi saja dari bangsa ini, tetapi juga melibatkan mereka yang belum lahir dalam mimpi kita.

Dalam posisi ini, ketika kita memosisikan diri sebagai pelaku dan bukan penonton, persoalannya bukah semata-mata optimisme atau pesimisme. Lebih dari itu, kita harus berfikir apa yang harus kita kerjakan dan seberapa besar energi dan amunisi yang harus kita siapkan.

Sudah saatnya pula kita menegaskan kembali untuk tidak terlarut dalam romantisme sejarah, meskipun dengan tetap mengakui bahwa kita adalah “anak-anak yang tumbuh di bawah asuhan sejarah”. Di sini, tugas kaum muda, bukan sekedar menuju pada suatu benua makna, akan tetapi menerka-nerka maknanya, menaksir terkaan-terkaan itu dan menarik kesimpulan eksplanatoris dan terkaan terbaik.

Permasalahan yang menyibukkan umat Islam di Indonesia, juga internasional, sesungguhnya terjadi di wilayah internal. Konflik NU-Muhamadiyah yang kini sudah mendingin sebenarnya sudah bermetamorfosa kepada konflik antar gerakan lain. Dalam gelombang perubahan ini, saatnya sekarang anak-anak muda diberi ruang untuk memainkan peranan yang menentukan.

Kaum muda adalah mereka yang berada dalam posisi yang sepihak dengan waktu. Oleh karena itu, sikap yang ‘melawan’ kebangkitan anak-anak muda berarti mengkhianati proses hidup yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Tentunya, dalam konteks ini kita teringat sebuah tulisan yang dibuat keroyokan oleh Jane Foster, Kumi Naidoo, dan Marcus Akhuta-Brown. Tulisan tersebut berjudul “Youth Empowerment and Civil Society”. Tulisan yang termuat dalam buku Civil Society at the Millenium (1999) ini menggariskan pentingnya anak-anak muda dalam proses perubahan politik melalui civil society dimana-mana.

Foster dkk. Bahkan menulis “Civil siciety probably needs young people much more than young people need civil society”. Masyarakat sipil perlu orang-orang muda lebih dari orang-orang muda memerlukan masyarakat sipil.

Maka, mulai saat ini, anak muda harus menyadari bahwa perlawanan lewat aksi-aksi demonstrasi jalanan tidaklah cukup, karena ia ‘hanya’ berfungsi untuk mereduksi kedzaliman. Ia, tentu saja, belum cukup tepat untuk disebut solusi.

Lebih dari itu, kaum muda harus menyadari bahwa mereka, minimal, memiliki empat agenda. Pertama, mempersiapkan para tekno-birokrat. Kedua, memepersiapkan para ‘intelektual organik’. Ketiga, mempersiapkan kader-kader ‘pemimpin politik’; dan Keempat, mempersiapkan para pengusaha.

Agenda ini harus dijalankan secara serius untuk mengobati “cacat bawaan” kepemimpinan oligarkis dan personal yang ada pada bangsa ini. Memang benar, sejak era reformasi bergulir keran diskursus pluralisme terus berkembang. Namun, KAMMI memandang, sebagian besar mereka yang mendengungkan ini lebih banyak menimbulkan budaya permisif dibandingkan nuansa bijaksana.

Di wilayah lain, banyak pula yang begitu sulit memahami kosakata ‘perbedaan’, jauh dari toleransi, dan kerapkali menganggap setiap variasi sebagai ‘penyimpangan’. KAMMI memandang, perlu disadari bahwa berbagai seluk beluk kemanusiaan penuh dengan konformitas, karena Indonesia sendiri adalah ‘produk’ manusia. Kita dapat mengatakan bahwa wajah Indonesia sesungguhnya merupakan pantulan penghargaannya terhadap kemanusaiaannya.

Semua ini berlaku selama melalui kematangan spiritual (yaqzhotur ruhiyah), dan kebangkitan pemikiran (shohwatul fikriyah). Sehingga, pada gilirannya muncul sebuah kebutuhan alami untuk tumbuh menguasai teori-teori kebangkitan (khothotun nazhoriyah) sebagai upaya meneruskan peradaban materi yang saat ini dikendalikna pihak-pihak yang tak bertanggung jawab.

KAMMI yakin kondisi hari ini tampak samar dan begitu absurd bagi kita semua, sehingga tumbuh banyak kekhawatiran tentang masa depan. Namun, sungguh semua ini adalah aksioma yang begitu dekat dengan realita pendahulu kita. Kita tidak lebih lemah dari generasi sebelum kita yang dengan perantaraaan Allah membuktikan kebenaran.

Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus tidak merasa resah dan juga tidak merasa lemah. Mari bergerak, transformasikan kaum muda Indonesia!

*) Ketua Pengurus Pusat KAMMI 2008-2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s