Menafsir Prinsip Gerakan KAMMI*

Oleh: Zulfikhar*

Pegiat Forum Diskusi KAMMI Kultural

“Solusi Islam adalah Jiwa Perjuangan KAMMI…” (Prinsip Gerakan KAMMI)

Muqaddimah

dzulMembicarakan prinsip gerakan KAMMI, sebenarnya akan sedang membicarakan tentang ideologi gerakan. Sebab kalau mau menarik akar historis KAMMI. Prinsip gerakan KAMMI sebenarnya semula disebut sebagai ideologi gerakan KAMMI.

Ideologi gerakan KAMMI lahir pada tahun 1999. Tepatnya pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Departemen Kaderisasi di Parung Bogor tanggal 9-15 Agustus 1999. Rakernas itu menyebut rumusan keenam konsep itu sebagai ideologi gerakan, sedangkan Muktamar III di Lampung tahun 2002 diganti menjadi prinsip gerakan.[1]

Jadi, rumusan terminologis awal dari prinsip gerakan adalah ideologi gerakan. Mengapa disebut sebagai ideologi gerakan? Tampaknya, terma itu dimuat untuk mengafirmasikan bahwa KAMMI bukanlah sebuah organisasi yang sekedar menghimpun basis dukungan sebanyak-banyaknya. Tetapi menghimpun dan mengkader para pendukung yang memiliki pemahaman, keyakinan dan komitmen terhadap prinsip-prinsip tersebut.[2]

Artinya, KAMMI bukanlah organisasi yang pragmatis. Organisasi yang hanya berorientasi kepada fokus kuantitasi kader. Tetapi, berpijak pada ideologisasi dan pematangan kepahaman kader kepada Islam dan nilai-nilai perjuangan KAMMI. Sehingga dimaksudkan forma (bentuk) kader akan tercermin melalui Indeks Jati Diri Kader (IJDK) dalam membangun karir keberadaannya di lingkungan kampus atau di luar. Kader KAMMI idealnya menjadi cermin prinsip-prinsip itu dalam aplikasi praksis.

Transformasi terma ideologi menjadi prinsip adalah perubahan yang radikal. Definisi keduanya sebanarnya berbeda secara fundamental. Secara terminologis, Ideologi didefinisikan sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat  (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup atau cara berpikir seseorang atau suatu golongan.[3] Sedangkan, prinsip adalah asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dsb).[4] Secara terminologis –untuk mempermudah interpretasi-  ideologi singkatnya bisa disebut konsep (thariqah) dan prinsip disebut asas (mabda’).

Kalau melihat definisi Ideologi diatas setidaknya ia merupakan kumpulan-kumpulan konsep yang menjalani filterisasi sehingga mengalami integrasi ke dalam terma ideologi. Sedang prinsip atau asas masih dalam bentuk tunggal. Ia masih sendiri (tunggal) oleh karenanya ia belum bermakna. Di dalam semiotika ia masih sebagai penanda (signifier). Belum bisa menciptakan makna. Sehingga ia membutuhkan sesuatu yang lain sebagai petanda (signified) sehingga akan menjadi tanda (sign) dan lahirlah makna (meaning).[5] Maka, asas –dalam proses menjadi ideologi- akan menemukan konsep dan metode –sebagai petanda- sehingga keduanya berintegrasi menjadi ideologi. Konklusinya, asas lebih sempit daripada ideologi. Maka tepat menempatkan keenam konsep –kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI sampai persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI di dalam kerangka prinsip gerakan.

Prinsip gerakan KAMMI sejak kelahirannya pada tahun 1999 sampai saat ini tidak terjadi perubahan. Kalau melihatnya lebih mendalam keenam konsep itu memang tersusun secara sistematis. Keenamnya tampaknya mempersonifikasikan enam mihwar (baca: tahapan) periodisasi gerakan. Menurut Rijalul Imam, mihwar ini diambil dari teoritisasi prinsip gerakan KAMMI ke dalam perluasan perjalanan dakwah KAMMI.[6]

Mihwar ini berguna untuk merapikan periodisasi gerakan sehingga selanjutnya mendisiplinkan dan menyemangati kader untuk memenuhi kitthah itu. Dengan rumusan mihwar gerakan maka perjuangan kader-kader KAMMI dapat dikatogerisasikan tidak saja berjihad melainkan berjihad bil manhaj.[7] Tabel berikut merupakan teoritisasinya:

Tabel 1. Mihwar Gerakan

PRINSIP GERAKAN KAMMI

 

MIHWAR GERAKAN

Kemenangan Islam adalah Jiwa Perjuangan KAMMI

Ideologisasi

Kebatilan adalah Musuh Abadi KAMMI

Resistensi

Solusi Islam adalah Tawaran Perjuangan KAMMI

Reformulasi

Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMMI

Rekonstruksi

Kepemimpinan Umat adalah Strategi Perjuangan KAMMI

Leaderiasi

Persaudaraan adalah Watak Muamalah KAMMI

Internasionalisasi

Mihwar diatas mengisyaratkan pergerakan KAMMI selayaknya memulai dari domain lokus yang lebih kecil (idealis-ideologis) menuju domain makro (idealis-progresif). Sehingga dapat menopang peran KAMMI untuk membumikan cita-cita peradabannya di negerinya hingga ke titik temu di dunia global.[8]

Tafsir Prinsip Gerakan KAMMI

Untuk mendukung visi menciptakan negara dan bangsa yang islami. KAMMI perlu memposisikan prinsip gerakannya agar selalu muat dan siap dalam kondisi dan konteks zaman apapun. Pinsip yang lentur tetapi substansial memang selalu dibutuhkan untuk membantu organisasi kader ini. Berikut adalah derivasi keenam prinsip tersebut.

1. Kemenangan Islam adalah Jiwa Perjuangan KAMMI

Sejak awal KAMMI percaya, bahwa kebersamaan dengan Islam akan membuat perubahan besar. Atas dasar inilah KAMMI  mengatributkan Islam dalam namanya dan menjadikan Islam sebagai mabda’ dan ideologinya. Sebab kemenangan Islam bagi KAMMI pasti akan datang. Hanya masalah waktu sebelum masa itu tiba.

Dengan kebersamaan dengan dakwah Islam, KAMMI berinisiatif untuk memperpendek masa kemenangan itu. Sebab, bangsa ini tidak akan bertahan lama jika tidak ada perubahan atau resolusi untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. KAMMI yakin kemenangan itu akan diwujudkan oleh orang-orang shalih yang bersedia untuk menjual dirinya kepada sang Khalik. Dalam Qur’an Allah berfirman; Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur, sesudah Kami tulis dalam Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh (QS Al-Anbiyaa (21) ayat 105).

Kami memiliki amanah fardhu ain untuk mewujudkan keshalihan komunal. Sehingga perbaikan akan menjelang dan menjadi prototip untuk mewujudkan negara yang islami. Masyarakat yang didalamnya ditopang unsur-unsur kebaikan –memiliki karakter akhlaqul kharimah- maka masyarakat itu akan sejahtera. Kebaikan pasti menang. Allah swt berfirman dalam Qur’an, Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat  lagi Maha Perkasa (QS Al-Mujaadilah (58) ayat 21).

2. Kebatilan adalah Musuh Abadi KAMMI

Kebatilan dengan kelengkapan kuasa dan kekuatan yang ia miliki tidak akan pernah menang. Kebatilan meskipun disembunyikan dimanapun akan tercium dan kebenaran dibaliknya akan terungkap.

Nasib politik kita hari ini sudah jauh dari forma ideal demokrasi. Padahal kita bersama sepakat demokrasi menjadi alat politik kita. Kita bersama telah sepakat untuk mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.[9] Tetapi sebaliknya –secara implicit terlihat- akibat berpolitik –yang menyimpang dari nilai-nilai demokrasi, negara ini menjadi tidak merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Korupsi yang merajalela sampai saat ini belum mampu dicegah. KPK hanya bisa memberantas praktik-praktik itu dengan diskresi yang bertendensi absolut. Tanpa langkah-langkah pencegahan yang sistemik dan berjenjang. Tidak heran orkestra KPK memberantas koruptor ibarat serial ‘Tom vis a vis Jerry’. [10]

Tren politik transaksional sudah menjadi budaya politik kita hari ini. Akhirnya demokrasi diseret kepada interest politic (politik kepentingan) bukan morality politic (politik moral). Kehidupan politik seperti ini harus diakhiri. Dengan modal sosial yang dimiliki KAMMI, kontradiksi-kontradiksi itu harus dikembalikan kepada trayeknya semula.

KAMMI yakin kebatilan itu pasti akan mundur dan hilang tinggal sejarah. Allah berfiman, Dan katakanlah, Kebenaran telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (QS Al-Israa (17) ayat 81)

3. Solusi Islam adalah Tawaran Perjuangan KAMMI

Adalah sebuah aksioma jika pencipta alam semesta beserta isinya Maha Mengetahui kebutuhan ciptaan-Nya, apa yang baik dan apa yang buruk bagi mereka.[11] Dia tahu apa yang harus dilakukan oleh manusia dan apa yang harus ditinggalkannya. Sehingga KAMMI yakin dan mafhum bahwa Islam tepat menjadi solusi. Tidak tepat mengandalkan nalar kritis untuk mencari kebenaran, padahal kebenaran itu sudah ada di depan mata.

Prinsip perjuangan KAMMI yang ketiga ini mendudukkan KAMMI bukan semata unsur kekuatan pendobrak, tetapi juga pembangun. Tidak ada larangan bahwa Islam dijadikan pedoman resolusi konflik kemanusiaan. Bahkan umat Islam yang tidak menjalankan syariat diancam dengan sebutan zalim, fasik dan kafir. Seyogyanya konsep syumuliyatul Islam (universalitas Islam) yang sering didiskusikan pada setiap DM1 tidak hanya menjadi konsep kognitif tetapi meluas menjadi afektif dan psikomotor.

4. Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMMI

Dalam mengajukan Islam sebagai solusi kehidupan. KAMMI juga menggunakan cara-cara yang sejalan dengan nilai dan ajaran Islam, yaitu perbaikan (ishlah).[12] Hal ini mengacu dalam firman Allah,

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali (QS Huud (11) : 88)

Dalam implementasi gerakannya, perbaikan selalu menjadi agenda utama. Mulai dari etika musyawarah, diskusi sampai demonstrasi di jalanan. Hal ini mencerminkan KAMMI sebagai organisasi yang berorientasi kepada persatuan dan kecerdasan amal. KAMMI tidak berkompromi dengan penggunaan bahasa kekerasan untuk menyampaikan kebaikan. Sebab kekerasan dengan pengrusakan dan fanatisme merupakan anasir-ansir dari permulaan kemunduran umat.

5. Kepemimpinan Umat adalah Strategi Perjuangan KAMMI

Kepemimpinan menjadi agenda besar maksud kehadiran KAMMI. Sebagaimana agenda itu tertuang di dalam visi perjuangan KAMMI. Sebab perbaikan bagi bangsa ini berada di kuasa para pemimpinnya. Dan akan terlaksana atau tidak tergantung kepada kehendak pemimpinnya.

Jika bangsa ini tidak memiliki pemimpin-pemimpin yang mampu dan cakap dalam amanah kepemimpinannya. Maka pasti bangsa ini akan mundur. Keadilan sebagai fondasi kehadiran negara tidak akan terwujud. Kesejahteraan pada akhirnya hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.

Oleh karena itu kepemimpinan harus direbut dan dipegang oleh negarawan-negarawan berkarakter dan berakhlaq baik. Mereka harus memiliki political will untuk memperbaiki dan memajukan bangsa ini. Sehingga disinilah peran yang coba ditawarkan oleh KAMMI. Dengan mesin kaderisasi yang berintegritas, KAMMI menyiapkan embrio-embrio kepemimpinan masa depan.

KAMMI percaya bahwa kepemimpinan bangsa ini harus dipegang oleh umat muslim. Sebab umat Islam adalah mayoritas dan mewarisi wacana perbaikan struktural dan kultural. Umat Islam datang dengan visi untuk menegakkan keadilan pada skala makro kebangsaan dan juga individual. Membawa keshalihan individu sebagai pelopornya. Sebab tanpa ditopang oleh keshalihan akhlaq manusia yang holistik, tidak mungkin visi perbaikan itu melahirkan pemimpin-pemimpin yang baik. Sedangkan, umat Islam –dibanding dengan umat beragama yang lain- memiliki konsep universal itu. Maka sudah semestinya umat Islam yang mampu mewujudkan keshalihan itu –untuk menopang visi keadilan negara.

Hal ini sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an,

Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS Al-Baqarah (2) ayat 105)

6. Persaudaraan adalah Watak Muamalah KAMMI

Wacana perbaikan oleh KAMMI tidak mungkin dilakukan seorang diri. Sejarah sudah berulang-ulang kali menceritakan bahwa awal kemunduran peradaban atau bangsa-bangsa zaman dulu berasal dari lunturnya rasa persaudaraan.

Umat Islam di zaman dulu meskipun memiliki agama dan kiblat yang sama. Faktanya mereka berbeda dan tidak selaras dalam berpolitik. Banyak kerajaan-kerajaan Islam yang saling menyerang satu sama lain.

Seperti kisah penyerangan Raja Pakubuwana II dari Kartasura terhadap VOC di Semarang pada tahun 1741 –untuk membantu pemberontakan orang-orang Cina disana- yang hampir berhasil. Mendadak serangan itu digagalkan oleh bantuan dari Cakraningrat IV, raja Madura, terhadap VOC. Akhirnya pemberontakan patah dan sebaliknya Kartasura direbut Cakraningrat.[13] Hal ini menggambarkan rasa persaudaraan antara kerajaan Islam di jawa belum terjalin. Hal yang sama juga terjadi di Sulawesi yaitu perang antara Kerajaan Gowa dan Bone. Akhirnya kelemahan dan ketidakmampuan yang mereka dapat.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Rasulullah saw ketika mempersiapkan Madinah sebagai basis gerakan dakwah. Beliau  dengan mempersatukan suku Aus dan Khazraj  yang di masa lalu bermusuhan. Proyek besar itu dilakukan pasca peristiwa Baiat Aqabah pertama (tahun ke-12 sejak Bitsah) dengan mengirimkan duta. Tugas sebagian duta ini diserahkan kepada seorang pemuda Islam yang termasuk pendahulu masuk Islam, yaitu Mush’ab bin Umair Al-Abdari.[14]

Dengan demikian persaudaraan menjadi prasyarat KAMMI untuk membangun perbaikan. Persaudaraan antara sesama muslim perlu dijalin dan dijaga keeratannya. Karena dengan persatuan umat muslim agenda-agenda perbaikan akan lebih mudah dijinjing dan dilaksanakan bersama. Persatuan diantara umat Islam akan mempengaruhi kemajuan bangsa.

Tidak hanya itu, persaudaraan dengan umat beragama yang lain juga penting untuk diagendakan. Sebab keberadaan mereka juga harus dihormati dan diakomodasi. Kebaikan dan kekuatan Islam perlu ditampilkan kepada mereka sehingga tidak lagi terjadi Islamophobia diantara keduanya. Persaudaaraan atas nama kemanusiaan dengan mereka harus dijunjung untuk kebaikan bersama.

Tendensi umat Islam dan non Islam untuk menyelesaikan permasalahan kebangsaan dengan berangkat dari perspektif agamanya masing-masing barangkali perlu dikurangi. Sebab hal-hal seperti ini pernah terjadi pada tahun 1970-an lalu.[15] Dan menyisakan butiran kecurigaan dan kebencian. Semestinya tradisi outward looking (melihat keluar), yaitu memikirkan bersama bangsa ini, kerja sama, dilakukan.[16] Sehingga tradisi netral tersebut –yang tidak bertentangan dengan syariat- menjadi kacamata solutif menyikapi konflik-konflik tersebut.

Kesimpulan

Prinsip gerakan KAMMI hadir untuk membentuk tradisi nilai kader-kader KAMMI. Prinsip gerakan diciptakan untuk membantu kader menyelesaikan dan menyikapi masalah dimana pun berada. Sehingga jawaban terhadap masalah-masalah hadir sebelum masalah itu ada.

Kalau ditarik dari urgensi kehadirannya, setidaknya prinsip gerakan KAMMI membentuk tiga karakter pada kader.

Pertama, prinsip gerakan membantu kader untuk membentuk karakter penyadaran. Dengan kehadiran prinsip gerakan, kader tahu bahwa misi perdana mereka adalah membuka tabir-tabir artifisial dunia.

Kejumudan dunia di dalam sekat-sekat kepolosan fanatisme, diskriminasi, kebobrokan moral harus diakhiri. Mereka itulah benih-benih syaitan yang memundurkan umat Islam dan Indonesia secara umum. Oleh karena itu KAMMI menjadikan prinsip pertama (kemenangan Islam), kedua (kebatilan adalah musuh abadi KAMMI) dan keenam (persaudaraan sebagai watak muamalah KAMMI).

Kedua, membantu kader membentuk karakter solutif. Kader KAMMI di latih menjadi aktivis yang kaya dan luas dengan ide-ide tawaran perbaikan. Hal ini terangkum dalam DM1 yang selalu  mengulang tentang peran pemuda di dalam pembangunan setiap bangsa. Bahwa pemuda adalah stok tawaran perbaikan bangsa. Karakter ini bermuara dari prinsip ketiga (solusi Islam) dan keempat (perbaikan)

Ketiga, membantu kader membentuk karakter kepemimpinan dan pembebasan. Hal ini direpresentasikan dari prinsip kelima, kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI. Berbekal puluhan solusi dan kesadaran reklektif akan kemenangan Islam kader akan percaya dan yakin untuk memulai langkah perubahan. Dengan integritas dan karakter akhlaqul karim yang telah menjelma menjadi karakter. Secara gradual dengan sendirinya akan lahir kader yang siap untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kronis.  Kader tepat hadir terpanggil memimpin untuk membebaskan belenggu-belenggu ketidakadilan dan penindasan yang menyandera. Menyitir statemen Anas Urbaningrum hari ini, “di dalam sejarah, pemimpin lahir pada saat yang seharusnya.” Wallahu alam bis shawab.


* Disampaikan dalam Diskusi KAMMI Kultural, Komisariat Universitas Islam Indonesia, 23 Februari 2013

* Ketua Kaderisasi KAMMI Daerah Bantul. Penggiat Diskusi KAMMI Kultural

[1] Rijalul Imam Dkk, Capita Selecta: Membumikan Ideologi Menginspirasi Indonesia, (Bandung: Muda Cendekia, 2010), hlm. 133.

[2] Mahfudz Sidiq, KAMMI dan Pergulatan Reformasi: Kiprah Politik aktivis dakwah kampus dalam perjuangan demokratisasi di tengah gelombang krisis nasional multidimensi, (Solo: Era Intermedia, 2003), hlm. 218.

[3] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hlm. 417.

[4] Ibid., hlm. 896.

[5] Lihat Roland Barthes, Elemen-Elemen Semiologi, (Jakarta, Ircisod, 2012), hlm. 55-72

[6] Imam, Op.Cit., hlm. 144.

[7] Imam, Loc.Cit.

[8] Imam, Op.Cit., hlm. 156.

[9] Preambule UUD 1945

[10] Sebutan Fahri Hamzah terhadap maneuver  KPK memberantas koruptor. Maneuver KPK itu mirip dengan salah satu episode kartun Tom and Jerry “Piano.” Tom sebagai pianis terkenal tidak dapat menghentikan permainan pianonya -yang seharusnya berakhir, sebab tuts piano tersebut ternyata dimainkan Jerry dari dalam. Sehingga Tom lama-kelamaan mulai lelah dan akhirnya pingsan di depan ribuan penonton. Dikutip dari Stadium General Rapat Pimpinan Nasional KAMMI, Yogyakarta 31 Januari 2013.

[11] Andi Rahmat dan Muhammad Najib, Gerakan Perlawanan dari Masjid Kampus, (Yogyakarta: Profetika, 2007), hlm. 155

[12] Sidiq, Op.Cit., hlm. 216

[13] Lihat M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), hlm. 142.

[14] Syaikh Syafiyyurahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar), hlm. 160.

[15] Setelah adanya serangkaian “kesalahpahaman”, pada waktu Menteri Agama dijabat Mukti Ali pada tahun 1970-an, istilah kerukunan antarumat beragama mulai digulirkan. Sejak itu terjadi perdebatan mengenai makna dan praktik toleransi, apakah toleransi itu berarti sikap dari mayoritas ke minoritas, atau sebaliknya. Kesimpulannya selalu dua-duanya, namun kesimpulan itu hanya ada di atas kertas, sedangkan dilapangan “kerukunan” itu tak pernah terjadi. Ketakutan akan kristenisasi pada orang-orang Islam (karena faktor-faktor ekonomis), dan Islamisasi di daerah mayoritas Kristen-Katolik (karena faktor politis) tidak menguntungkan kerukunan. Lihat Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 167-168.

[16] Ibid., hlm. 168.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s