Memahami Jati Diri KAMMI

Catatan Penyunting: Pada tanggal 21 Februari 2013, para pegiat Forum Diskusi KAMMI Kultural yang berada di Jakarta menggelar Diskusi Pra-Sarasehan Intelegensia KAMMI. Diskusi digelar di Mesjid Al-Hidayah, Komplek BI Bidakara, Tebet, Jakarta Selatan. Diskusi ini mengangkat tema “Geneaogi KAMMI: Gerakan Perlawanan melawan Rezim Kapitalisme Represif Orde Baru”. Bertindak sebagai pemantik, Okta Undang Suhara, SIP, Pengurus PP KAMMI yang juga bekerja sebagai peneliti di PACIVIS UI. Berikut ulasan diskusi dari salah satu aktivis KAMMI Jakarta. 

GambarOleh: Sofistika Carevy Ediwindra *)

KAMMI itu apa? Mungkin ini menjadi salah satu pertanyaan yang menggeret gerbong pembicaraan diskusi yang berlangsung hari ini (kemarin, red). Diskusi bertemakan Genealogi KAMMI sebagai Gerakan Perlawanan terhadap Kapitalisme Represif Orde Baru ini merupakan awalan dari rangkaian diskusi menyongsong Sarasehan Intelegensia KAMMI 15-17 Maret mendatang di Jakarta.

Beragam pertanyaan menyeruak dalam subjektif pandang saya. Apakah pertanyaan ‘KAMMI itu apa’ relevan untuk dipertanyakan? Apakah dengan menanyakannya berarti kita (KAMMI) belum memiliki identitas jelas, mantap, dan menapak? Apa pula makna ‘genealogi’ yang menjadi tema perbinangan hangat? Apa tujuan ‘sarasehan KAMMI’ yang diklaim sebagai komunitas kultural ini? Gerakan apa KAMMI kultural itu? Apakah ia sebentuk Gerakan perlawanan, perubahan, atau penghancuran? Ke mana arah gerak komunitas ini?

Mengoreksi Beberapa Asumsi

Sebelum berada di sini (Jakarta), pemahaman yang melekat (sangat) dalam benak saya yakni bahwa KAMMI adalah PKS. Silakan menyalahkan atau membenarkan, menyetujui atau menolak. Pendapat saya (dan mungkin masih banyak di antara kita) bukan tanpa alasan. Ada beberapa alasan yang mendasari asumsi tersebut.

Pertama, lantaran fisik aktivitas yang diteladankan lingkungan sekeliling saya mengarahkan hal demikian. Saya akui pula, masuknya saya ke KAMMI diawali dari seseorang yang ‘memanas-manasi’ tentang asyiknya berada di KAMMI. Walhasil, niatan saya kuliah, di kota/kampus manapun yang penting ada KAMMI dan tarbiyah-nya yang mapan. Meski dua kampus yang saya tempati justru mewajahkan kedua hal itu menjadi entitas yang harus dibangun bukan sekadar dinikmati alurnya yang telah tersistem.

Frame yang dihembuskan pada saya bahwa anak KAMMI ya anak tarbiyah. Pada kenyataannya, memang demikian. Lantas, apakah ia menutup kemungkinan yang lain untuk masuk? Saya akan menjawab pertanyaan ini nanti. Namun, kendati demikian, saya tidak menafikan bahwa seperti itulah pandangan yang melekat pada saya awalnya.

Kedua, yakni lantaran di lingkungan sebelumnya, pemahaman mengenai keragaman yang mestinya KAMMI wadahi dan miliki tidak saya dapatkan. Atmosfer yang diciptakan dan dironakan di lingkungan KAMMI saya sebelumnya, dalam subjektif saya sekali lagi, hanya memfokuskan pada titik muara gerakan pada tarbiyah itu sendiri, tidak ada yang lain.

Dalam diskusi disampaikan bahwa benar memang bahwa KAMMI lahir dari habitus (meminjam istilahnya Pierre Bourdieu) Ikhwanul Muslimin (IM), sebuah gerakan dakwah yang telah berusia lebih dari 80 tahun di Mesir. Kita sering mengidentifikasinya di Indonesia sebagai tarbiyah atau memperuncingnya menjadi PKS, sesuai doktrin al-hizb huwa al-jama’ah; al-jama’ah hiya al-hizb.

Namun jika dipertajam lagi, ia bukan menjadi sesatunya basis identitas yang mewarnai KAMMI. Garis keturunan (asal muasal) gerakan ini (KAMMI)-lah yang menjadi fokus pembahasan dari ‘genealogi’ yang diusung. Jika boleh menafsiri, tujuannya bisa jadi ke arah pemahaman yang sejati mengenai gerakan itu sendiri hingga ketika bergerak pun memiliki kesadaran, arah, dan logika yang benar.

Pemantik menjelaskan dalam pengantar diskusi mengenai muasal lahirnya KAMMI. KAMMI bukan sekadar bahwa KAMMI adalah kumpulan anak-anak LDK yang mendeklarasikan diri sebagai gerakan ekstraparlementer. Lebih dari itu. KAMMI lahir sebagai gerakan perlawanan yang dimulakan terhadap deru represif orde baru. Himpitan yang didaulatkan oleh rezim orde baru menjadi pendorong lahirnya KAMMI yang diawalkepalai oleh Fahri Hamzah. Jika merunuti opini yang beredar, besarnya massa yang menggebrak orde baru yang dimotori oleh KAMMI menyisakan pertanyaan yang memunculkan pendapat bahwa ya, pantas saja bisa menggerakkan massa banyak. Toh, massa itu adalah massa-nya PK (tarbiyah).

Bahayakah pendapat tentang KAMMI itu PKS? Jika memahami arah gerak KAMMI maka pemahaman KAMMI=PKS menjadi hal yang mempersempitnya. Mengapa? Yang saya pahami, KAMMI adalah gerakan penekan (pressure group) yang independen. Bayangkan saja, jika paradigma kader dan masyarakat bahwa KAMMI ya PKS itu menghegemoni maka mata pisau pressure group KAMMI akan menumpul secara pasti. Bertolak dari independen maka pelabelan itu akan mengerek KAMMI justru menjadi lemah di hadapan aspek yang dilabelkan padanya. Efeknya, bisa jadi KAMMI akan mengaum keras di depan partai lain yang dilihat bermasalah namun terdiam saat partai yang menjadi labelnya juga bermasalah.

Basis Identitas KAMMI

Mari kembali pada perbincangan soal genealogi. Benarkah gerakan IM atau tarbiyah menjadi sesatunya sumber KAMMI? Jika iya, berarti KAMMI toh hanya bayangan mereka saja, begitukah? Jika pun sama dan serupa, lantas untuk apa ada? Nyatanya, gerakan KAMMI yang hendak mencapai 15 tahun usianya tidak semata-mata mengadopsi gerakan IM. Identitas KAMMI yang tertuang dalam 4 Paradigma Gerakan KAMMI yang dirumuskan tahun 2004, misalnya.

Dari ketiganya, terdapat satu paradigma yang justru terinspirasi dari gagasan Kuntowijoyo (Muhammadiyah) yakni Intelektual Profetik. Pemahaman yang ingin digarisbawahi yakni KAMMI ini merupakan gerakan yang lahir dari ragam entitas pendukung beragam di sekelilingnya. Diibaratkan oleh salah satu pemantik, Tarbiyah menjadi tanah disemainya bibit KAMMI. Pupuk, air, dan sarana pendukung tumbuh kembang KAMMI beragam. Ada NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, dll.

Sempat muncul pertanyaan lanjutan. Apakah sikap seperti ini bukan berarti seperti KAMMI itu kacang yang lupa kulitnya? Tidak. Justru KAMMI yang disalahtafsirkan bahwa gerakan ini menjadi otoritas partai tertentu hanya akan menyempitkan wawasan pandang gerakan dan kadernya. Alih-alih muncul pendapat bahwa KAMMI harus dan hanya boleh bermuara pada partai tersebut. Saya memahami bahwa selayaknya pemahaman KAMMI secara paripurna mengerek kita pada keluasan pandang. KAMMI adalah wadah perjuangan permanen. KAMMI melahirkan pemimpin menuju Indonesia menjadi negara dan bangsa yang islami. Menjadi pemimpin terang saja tidak bisa dengan pandangan eksklusifitas kelompok saja. Menjadi pemimpin jelas butuh penerimaan dari entitas lain yang heterogen, terlebih di tanah air kita tercinta.

Perluasan lokus pandang KAMMI membawa pada titik bahwa semestinya KAMMI pun luas. Ia bukan hanya menerima orang-orang tarbiyah saja. Justru ia menjadi sarana pembelajaran bagi sesiapa saja yang memang ingin bergerak menjadi pemimpin menuju Indonesia yang Islami. Maka background ormas lain di KAMMI bukanlah untuk dibasmi dan dijerabut. Keragaman tersebut diwadahi KAMMI untuk semakin memperkuat dan memperkaya gerakan.

Seorang pemimpin tidak seharusnya antipati terhadap gerakan lain. Menjadi pemimpin bukan suatu kemutlakan yang bisa diraih seorang individu atau kelompok sebagai sebuah entitas. Ia jelas membutuhkan yang lain dan tidak bijak jika memangkas gerakan lain hingga menunggalkan diri. Arahan yang sehat dibutuhkan. Yakni, pemimpin itulah orang yang memang memiliki kapabilitas pun didukung oleh sebanyaknya massa lantaran kemampuannya membawa perbaikan.

Hal inilah yang ingin dicapai KAMMI. Ia menjadi wadah yang luas, terbuka, dan besar sebagai tempat para pemimpin belajar dan menyiapkan diri untuk bertarung di medan laga kepemimpinannya.

Mengutip dari The 8th Habit-nya Stephen R. Covey (2008), organisasi dan manusia yang berhasil yakni mereka yang memiliki paradigma pribadi yang utuh terhadap dirinya. Organisasi bisa menjadi hebat dan bertahan lama jika ia memiliki gambaran yang jelas terhadap identitas diri yang mengakar pada kesejatian diri, menemukan bakat dan kekuatannya, dan memanfaatkannya menjadi sebuah sumbangsih nyata.  Covey sangat menekankan pentingnya memahami diri yang itu bisa membawa pada paradigma komplet tentang hakikat diri organisasi yang bukan hanya akan melejitkan potensi organisasi namun juga menjadikan organisasi menemukan arah gerak tertingginya dan akhirnya mengilhami organisasi lain untuk sukses.

Ikhtitam

Visi KAMMI telah jelas termaktub. Visi itu tentu lahir karena adanya kebutuhan terhadapnya. Para kader penggerak KAMMI-lah orang-orang yang nuraninya tergerak untuk memenuhi panggilan terhadap kebutuhan tersebut, yakni kebutuhan akan pemimpin dan negara-bangsa yang islami. Maka selayaknya KAMMI lebih dinamis dan proaktif dengan perubahan dan kebutuhan masyarakat yang menjadi lahan utamanya. KAMMI beserta kader yang mengusungnya tidak pantas gagap dalam memenuhi panggilan tersebut. Di KAMMI-lah mestinya pemenuhan kesiapan terhadapnya terpenuhi. Maka dimulakan dari pemahaman yang paripurna dan mewujud terhadap sejatinya gerakan ini kemudian membawa pada semangat penggalian potensi dan sumbangsihnya.

Akhirnya, bermuaralah KAMMI menjadi gerakan yang menginspirasi dan memotori pelaku maupun objek yang ditujunya. Mari kita tunggu gagasan-gagasan segar selanjutnya.

*) Aktivis KAMMI Jakarta, pernah menjadi Sekretaris Umum KAMMI Komisariat Madani. Mahasiswi Sampoerna School of Education.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s