Ideologi Gerakan KAMMI Belum Selesai! – Catatan Sarasehan Nasional Intelegensia KAMMI (2)

Gambar

…biarlah Ikhwanul Muslimin menjadi salah satu inspirasi gerakan KAMMI, yang akan berdialektika, bertarung, serta beradaptasi dengan gagasan lain yang juga berkembang seiring dengan berkembangnya KAMMI….

YOGYAKARTA (24/12)- Siang itu, awan mendung menyeliputi Kota Yogyakarta. Tak berapa lama kemudian, turunlah hujan yang cukup deras. Sejak beberapa bulan lalu, di kota ini memang sering turun hujan yang membuat suasana menjadi sedikit lebih dingin daripada biasanya.

Akan tetapi, hujan yang deras ini tak menyurutkan semangat puluhan orang yang sejak satu hari sebelumnya berkumpul di Balai Kota Yogyakarta untuk mendiskusikan ideologi gerakan KAMMI. Di pusat kota Yogyakarta ini, sarasehan Intelegensia KAMMI hari kedua resmi dimulai. Sejak malam sebelumnya, sarasehan diwarnai oleh berbagai perdebatan hangat, diskusi yang mendalam, serta pembongkaran-pembongkaran atas kerangka gerak KAMMI selama ini.

Perdebatan pada malam sebelumnya berujung pada kesimpulan bahwa harus ada pembacaan yang lebih kritis atas sejarah dan ideologi gerakan KAMMI. Perdebatan berada pada pertanyaan kunci: “apakah kelahiran KAMMI dilihat sebagai ‘agensi’ atau ‘struktur’? Konteks relasi KAMMI dan golongan lain menjadi wilayah perdebatan. Pembacaan tersebut kemudian mengantarkan peserta diskusi pada pembicaraan tentang masa depan KAMMI.

Tantangan Intelektual

Kali ini, panitia menghadirkan dua orang senior gerakan KAMMI DIY, Yusuf Maulana dan Imron Rosyadi. Dua orang tersebut pernah dikenal sebagai ‘The Three Muskeeters‘ bersama Mu’tamar Ma’ruf, tiga ujung tombak KAMMI DIY pada era 2001-2002 yang dikenal dengan semangat gerakan intelektualnya. Imron Rosyadi  sempat menjadi Ketua PP KAMMI 2002-2004. Adapun Yusuf Maulana adalah Ketua Departemen Humas KAMMI DIY.

Untuk merespons masalah yang ada di KAMMI, menurut Yusuf, ada tiga jalan utama. “Pertama, jalan struktural. Cara yang dilakukan adalah keluar dari struktur dan ambil posisi secara vis-a-vis. Jalan seperti ini bisa dilakukan dengan cepat, gegap-gempita, tapi tak menghasilkan apa-apa secara jangka panjang. Kedua, jalan intelektual, melakukan kerja-kerja pengetahuan. Cara ini sering disebut sebagai cara ‘korektif’, masuk ke dalam dan memperbaiki dengan pengetahuan. dan Ketiga, jalan kultural, melakukan koreksi di luar struktur tanpa harus mengganggu kerja-kerja kolektif di luar struktur”, kata Yusuf.

Menurut Yusuf, tantangan berat KAMMI ke depan adalah bagaimana membangun basis pengetahuan yang kuat untuk menjawab tantangan zaman. “Dengan kondisi yang ada saat ini, pertanyaan yang penting bukanlah apakah KAMMI adalah agen atau struktur, tetapi strategi peradaban apa yang ingin KAMMI berikan? Saat ini, kerja-kerja politik praktis tidak cukup. Kita perlu pembangunan basis pengetahuan”, lanjut mantan editor senior Pro-U Media ini.

Sebagai contoh, saat ini ada kecenderungan munculnya lokus-lokus diskusi di berbagai kota besar. “Di UGM dan UIN, dulu sempat ada anak-anak muda yang saya fasilitasi diskusi, mengisi ruang kosong yang tak mereka dapatkan di halaqah atau organisasi. Beberapa di antaranya adalah mereka yang akhirnya mengambil estafet KAMMI DIY dan BEM seperti Rijalul Imam, Amin Sudarsono, atau Agung Budiono. Begitu juga ketika saya main ke Bandung atau Jakarta, tren serupa muncul, walau tidak dalam ranah kritis, tetapi lebih pada profesi”, terang Yusuf.

Mengapa tradisi intelektual ini penting? “Setelah tahun 1998, kita diharapkan pada pertanyaan besar: apa yang ingin dilakukan gerakan mahasiswa setelah ini? Perkembangan zaman sampai, misalnya, pada kondisi di mana kita perlu mengisi ruang-ruang profesional. Wacana kebangsaan sekarang diisi oleh asosiasi profesional, seperti juga terjadi di Mesir. Semua hal membutuhkan kompetensi profesional dan keilmuan. Oleh sebab itu, dulu kita memfasilitasi lahirnya lokus profesional yang berbasis kompetensi, sehingga diskusi-diskusi KAMMI bisa lebih mengarah pada pemanfaatkan kompetensi keilmuan kader”, lanjut pendiri KAMMI UIN Sunan Kalijaga ini.

Sekarang, kita dihadapkan pada kader KAMMI yang berubah ketika masuk pada lokus intelegensia baru. “Kita bisa bertanya pada beberapa founding fathers KAMMI yang sekarang mapan dengan akses kekuasaan atau tempat kerja profesionalnya. Ketika masuk ke lokus intelegensia di mana kondisinya berbeda dengan ruang yang dulu diidealkan ketika mahasiswa (KAMMI), apakah nilai-nilai ke-KAMMI-an yang dulu diwartakan itu masih ada? Ini penting untuk disikapi. KAMMI harus punya basis epistemologi politiknya sendiri, sehingga bisa memandu KAMMI dalam aksi-aksi praktisnya di lapangan”, tutur Yusuf sembari memberikan beberapa kasus.

Dengan demikian, pembangunan pengetahuan penting. “Maka dari itu, tradisi-tradisi intelektual seperti membaca, menulis, dan berdiskusi menjadi penting. Kita bisa kritisi kondisi beberapa hal. KAMMI harus menjadi ‘dewasa’ dalam bergerak. Jika porsi pembicaraan di Muktamar lebih banyak soal Ketua daripada merumuskan ideologi dan konstitusi, ini artinya KAMMI belum dewasa. Kalau aksi-aksi KAMMI hanya mengikut pada instruksi orang tertentu tanpa dipikirkan oleh kader sendiri, ini berarti KAMMI juga belum dewasa. Atau, jika problem bangsa kebangsaan tapi yang bergerak sedikit, kita juga mesti bertanya, sudah seberapa dewasakah KAMMI untuk menentukan nasibnya sendiri?” Yusuf mengingatkan.

Beberapa peserta terlihat serius mengikuti sesi ini. “Apakah kami yang  berjalan di jalur kultural ini, perlu mendapatkan pengakuan dari struktural?”, tanya seorang peserta. Yusuf tersenyum. “Yang paling penting adalah kerja-kerja pengetahuan kita, kerja perubahan. Biarlah orang-orang yang punya kepentingan mendiskusikan siapa yang akan jadi Ketua KAMMI di Muktamar. Tapi kita pikirkanlah mau dibawa ke mana KAMMI ke depan, agar bisa membuat agenda peradaban sendiri ke depan”, jawab konsultan penerbitan ini.

Terkait ideologi, Yusuf menyatakan bahwa KAMMI memang mengambil inspirasi dari Ikhwanul Muslimin. “Salah satu poin penting yang kemudian menonjol dari pemikiran Ikhwan adalah tradisinya yang ekletik. Oleh sebab itu, KAMMI mengambil dimensi ekletik itu untuk mendialogkannya dengan wacana-wacana lain. Ada wacana yang berasal dari tradisi Kuntowijoyo, yang kami anggap relevan, dan akhirnya masuklah ke paradigma gerakan KAMMI. Ada yang ‘genit’ memasukkan wacana Marxian yang revolusioner, dari Islam Kiri Hassan Hanafi, dan akhirnya masuk juga. Orang yang ‘genit’ itu ialah saya sendiri”, kenang Yusuf.

Belum Selesai

Senada dengan Yusuf Maulana yang  berbicara tentang tradisi intelektual, Imron Rosyadi juga mengingatkan bahwa paradigma gerakan KAMMI saat ini belum selesai dan bukan sesuatu yang final. “Dulu, di Muktamar keempat tahun 2004, saya dan beberapa rekan mencoba untuk menawarkan KAMMI sebagai sebuah institusi publik. Lahirlah paradigma dan Muqaddimah yang saya rumuskan sebagai Ketua SC Muktamar, atau Kredo yang dibuat oleh Teguh (Ketua KAMMI Bandung). AD/ART kita rombak dari yang dibuat oleh Fahri dkk di Muktamar pertama. KAMMI seharusnya menjadi sebuah lembaga publik, dikelola dengan pertanggungjawaban publik. Kalau dari bahasa ‘dalam’-nya, KAMMI adalah lembaga yang diwakafkan untuk publik (wajihah ‘am)”, terang dosen Unsoed Purwokerto ini.

Karena KAMMI adalah lembaga publik, ia semestinya dikelola dengan logika publik. “Oleh sebab itu kami menggagas identitas KAMMI. Dan sebetulnya, identitas itu pubn belum selesai dirumuskan, entah sampai sekarang ada perubahan atau tidak”, kata Imron.

Apa ikhtiar yang dilakukan untuk menjadikan KAMMI sebagai lembaga publik? “Kami memulai dari bentuk organisasi. Setelah konflik di Muktamar Lampung 2002 agak mereda, kami mencoba memikirkan, apa sebetulnya bentuk yang relevan untuk KAMMI berikan bagi Indonesia? Bagi kami, bentuk KAMMI jelas adalah organisasi mahasiswa. Tetapi apakah organisasi mahasiswa relevan dalam era konsolidasi demokrasi? Saya dan beberapa kawan di Yogya mencoba merumuskan bentuk apa yang relevan untuk KAMMI berikan pada bangsa. Tetapi diskusinya belum selesai, dan akhirnya sebagai jalan  tengah semua opsi dikumpulkan menjadi satu. Jadilah paradigma gerakan KAMMI itu”, cerita Sekretaris Jenderal KAMMI Komisariat UGM 2001-2002 ini.

Selain bentuk gerakan, yang juga dipikirkan adalah ideologi gerakan. “Kami dulu mencoba memikirkan ideologi apa yang cocok untuk KAMMI. Karena generasi kami lahir dari nuansa Tarbiyah yang kental, dan Tarbiyah mengambil referensi gerakan dari Ikhwanul Muslimin, kami terapkan Ikhwanul Muslimin  dalam latar keindonesiaan. Tetapi tentu saja IM bukan sesuatu yang final dan tunggal. Diadopsilah beberapa referensi lain yang berasal dari Indonesia. Menurut pemikiran kami pada waktu itu, biarlah Ikhwanul Muslimin menjadi salah satu inspirasi gerakan KAMMI, yang akan berdialektika, bertarung, serta beradaptasi dengan gagasan lain yang juga berkembang seiring dengan berkembangnya KAMMI. Ideologi KAMMI bukan sesuatu yang final, dan tak boleh final”, jelas Imron yang sekarang tinggal di Purbalingga.

Dengan demikian, ideologi bukan sesuatu yang selesai dan masih perlu dipikirkan. “Tempat yang paling tepat untuk memikirkan ulang ideologi gerakan KAMMI adalah di Muktamar. Selama ini, Muktamar selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang simpel, tempat memilih Ketua sudah itu selesai. Jarang sekali KAMMI memikirkan gagasan-gagasan KAMMI ke depan. Tahun 2004, saya dan beberapa kawan mencoba menawarkan format ideologi gerakan KAMMI yang akhirnya diterima oleh mayoritas peserta muktamar tanpa perdebatan berarti. Maksud kami awalnya adalah merumuskan semacam format ‘NDP’ bagi KAMMI, tapi belum kesampaian karena belum ada yang sanggup menyelesaikannya”, kata Imron.

Untuk itulah, perbincangan soal ideologi dan identitas gerakan KAMMI harus terus dilakukan. “Dulu saya ingat, pertama kali kami mencoba menjadikan arena DM3 sebagai arena untuk memperbincangkan gagasan Ikhwanul Muslimin sebagai bahan kajian Kepada peserta, kami memberikan gagasan ikhwan kepada peserta, silakan dibahas, dibantai, dikritik, dihabisi, dan dicari kesesuaiannya dengan Indonesia, sehingga bisa menjadi tawaran baru bagi masa depan bangsa. Di forum DM3 itulah kami juga mulai membahas NU, Muhammadiyah, dan pemikiran Indonesia lain sebagai kajian. Proyeknya adalah pembangunan basis ideologi KAMMI”, sambung Imron.

Oleh sebab itu, menurut Imron, seorang AB3 seharusnya punya kompetensi ideolog. “Ini yang perlu diwariskan kepada KAMMI ke depan untuk melanjutkan agenda mengawal transisi demokrasi”, kata Imron diamini oleh peserta secara serius.

Ketika ditanya peserta soal “KAMMI sebagai wakaf yang diberikan oleh tarbiyah kepada publik”, Imron menyatakan bahwa hal itu berasal dari cerita zaman kepengurusan pusat ketika bertemu dengan seorang tokoh tarbiyah top tingkat nasional. “Waktu itu setelah Muktamar Lampung. Beberapa pihak yang terpilih setelah konflik datang ke seorang tokoh tarbiyah top nasional untuk bersilaturrahmi dan meminta legitimasi soal konflik yang terjadi di tubuh KAMMI pada masa itu. Namun, tokoh itu justru menyatakan bahwa KAMMI sudah diwakafkan untuk publik dan oleh sebab itu selesaikanlah melalui logika publik”, kata Imron menirukan statement tokoh tersebut.

Maka dari itu, jadikanlah KAMMI benar-benar sebagai lembaga publik, tanpa harus terpenjara oleh intervensi dari orang-orang yang mengatasnamakan struktur tertentu. “Tidak penting mempersoalkan apakah KAMMI adalah agen atau struktur. Biarlah kawan-kawan yang menentukan siapa yang akan jadi Ketua KAMMI. Terpenting, rumuskanlah KAMMI mau ke mana setelah ini agar cita-cita muwaqqif itu tersampaikan. Biarlah KAMMI diisi oleh orang-orang yang beragam, tetapi diikat melalui identitas dan jati diri yang ada di KAMMI dan terus berkembang bersamanya”, pesan Imron diamini oleh Yusuf.

Tindak Lanjut

Pertemuan selama dua hari yang digagas oleh beberapa aktivis KAMMI ini diwarnai oleh beberapa perdebatan, adu gagasan, adu pemikiran, dan argumentasi. Diformat ke dalam empat sesi, dari problematika KAMMI hari ini, mengapa KAMMI harus lahir, ideologi gerakan KAMMi, tantangan dan masa depan KAMMI, diakhiri oleh rencana tindak lanjut. Pembicara dihadirkan sebagai wahana sharing dan memperjelas gagasan-gagasan KAMMI di masa lampau.

“Forum ini seperti Daurah Marhalah 4 KAMMI”, kata seorang peserta diskusi yang kebetulan sudah berstatus AB3. “Pembahasan di dalam ruangan mencerminkan kekayaan gagasan dan pertarungan ide yang hingga saat ini masih hidup di KAMMI”, lanjutnya bersemangat. Forum sampai pada kesimpulan bahwa masa depan KAMMI tidak hanya lahir dari pertarungan politik di jalur struktural, tetapi juga bersinergi dengan pertarungan gagasan di jalur kultural. “Kalau boleh disebut MLB, ini adalah ‘MLB Ideologis’ gerakan KAMMI selama ini, di mana perubahan tidak hanya berada di jalur struktur, tetapi juga kultur”, komentar peserta lain.

Forum yang digelar selama dua hari ini melahirkan beberapa rekomendasi. Di antaranya,  rencana untuk mendokumentasikan gagasan-gagasan tentang KAMMI ke depan ke dalam satu buku. “Agar KAMMI punya referensi untuk membangun peradaban dan kebangsaan ke depan sekaligus punya referensi mengenai ideologi KAMMI”, kata fasilitator sesi.

Selain itu, forum juga menyepakati untuk melakukan pertemuan serupa di daerah-daerah lain. “Sayang sekali jika forum ini berakhir hanya sampai di ruangan ini. Ada baiknya, forum dilanjutkan sebagai forum kultural agar bisa melahirkan manfaat lain”, komentar peserta dari Jakarta yang baru sampai ke lokasi Ahad siang. . “Ini biar gagasan-gagasan yang sudah ada terkristalisasi menjadi sebuah agenda besar untuk melakukan kerja-kerja pengetahuan. Biarlah yang di struktur yang menuntaskan dan membawa ini ke forum”, kata seorang peserta.

Kesepakatannya, forum akan dilaksanakan di Jakarta pada pertengahan Februari. Selain forum lanjutan, hasil forum di Yogyakarta ini juga akan ditindaklanjuti dengan pembuatan buku agar gagasannya terdokumentasikan beserta tim yang dibuat. “Forum ini adalah murni forum kultural. Kami tidak perlu pengakuan berlebihan dari struktural. Jika struktur mengapresiasi dan membawa ini pada forum-forum resmi, kami akan senang sekali”, kata seorang peserta dari UGM.

Semoga gagasan ini benar-benar menjadi awal bagi masa depan KAMMI yang lebih baik. Agar bebar-benar seperti yang tertera dalam kredo KAMMI, “Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkehendak merdeka, tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak…” [maru]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s