“TARBIYAH PERSILANGAN”: Tentang Identitas Kultural Kader KAMMI

oleh: Ahmad Rizky Mardhatillah Umar

Pegiat Forum KAMMI Kultural Yogyakarta

maruSESEORANG yang mengecap dakwah tarbiyah biasanya akan menemui dua pilihan yang sebenarnya susah: tereksklusi dari habitus awal tempat ia mengenyam ilmu agama dulu, lantas memilih untuk sama-sekali keluar dari habitus-nya itu, segera berganti ke habitus tarbiyah yang penuh kompleksitas.

Atau mungkin ia justru menghampiri tarbiyah-nya dengan pendekatan yang telah lama ia gunakan, ia terima dari habitus tempat ia menuntut ilmu agama dulu, sehingga menyebabkan munculnya keterpaduan yang tidak sederhana; antara doktrin-doktrin harakah yang mengikat, dengan wawasan kultural yang dipersembahkan habitus yang lama ia tempati dulu. Baca lebih lanjut

Mahasiswa Menghadapi Pemilu 2014: Perspektif KAMMI

oleh: Zulfikhar *)

Pegiat Forum KAMMI Kultural Yogyakarta

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan” -Soe Hok Gie

zul2Di penghujung diskusi Sarasehan Inteligensia di Jakarta kemarin menghadirkan tiga narasumber menarik. Diskusi penutup ini menghadirkan orang-orang penting yang sedikit banyak berpengaruh pada alur kesejarahan organisasi yang hampir berusia 15 tahun ini. Mereka adalah Haryo Setyoko (Sekjen KAMMI 1998-1999), Muhammad Badaruddin (Ketua PP KAMMI 2000-2001) dan Fikri Azis (Sekjen KAMMI 2008-2009).

Dalam tulisan ini penulis akan mengulas kembali gagasan Fikri Azis yang segar dan kontroversial menyikapi peran KAMMI pada pemilu 2014.   Baca lebih lanjut

REFLEKSI MILAD KE-15: KAMMI Mesti Hidupkan Sel Gerakannya

oleh: Muhammad Azami *)

Pegiat Forum KAMMI Kultural Malang

GambarMenghindari masa ketenggelaman dalam senja sejarah KAMMI sebagai gerakan ‘hijau’ yang cepat naik daun. Mengantisipasi masa dimana KAMMI lahir di malang dan akan mati di malang”

SALAH seorang ikhwan membacakan sebuah surah sebagai tanda mengawali diskusi kecil malam refleksi 15 tahun KAMMI, di heliped depan gedung Deklarasi Malang. Rintik hujan yang genit, membasahi langit langit pikiran kami, namun tetap tidak menyurutkan hati kelima orang ini untuk berkumpul bersama guna melestarikan tradisi ilmu dan perjuangan yang diwariskan oleh Islam. Baca lebih lanjut

REFLEKSI MILAD KE-15: Membenahi Dwitungal KAMMI−PKS

oleh: Yusuf Maulana *)

YusufMESKIPUN secara de jure Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) mengklaim bahwa mereka bukanlah bagian dari struktur-langsung PKS, secara de facto sukar dipungkiri bahwa keduanya merupakan entitas yang berkaitan erat. Maka, mendiplomasikan KAMMI bukan bagian dari PKS, atau memisahkan masa depan PKS tanpa melibatkan dinamika KAMMI, merupakan wacana yang absurd. Dengan demikian, berbicara masa depan PKS—baik untuk 2014 ataupun setelahnya—meniscayakan untuk melihat kiprah pelapisnya saat ini: KAMMI.

Sampai di sini dapat dibangun asumsi bahwa membangun KAMMI sama pentingnya membangun PKS. Asumsi ini bukan berarti menyegala-galakan keberadaan KAMMI; bahwa  KAMMI pastilah PKS, atau PKS masa depan hanya bisa direpresentasikan sebagai KAMMI hari ini. Akan tetapi, seperti yang ingin disampaikan pada refleksi sederhana ini, KAMMI sebagai anasir di tubuh PKS—entah apa pun penyebutan yang dimaui oleh aktivisnya—tidak bisa menutup mata atas kiprah PKS; hal yang sama berlaku pula kepada PKS. Baca lebih lanjut

MANIFESTO KAMMI UNTUK INDONESIA

Gambar

Naskah Manifesto ini dirumuskan di Jakarta, diselesaikan di Yogyakarta, dan dideklarasikan di Malang. Baca lebih lanjut

[BUKU] Mencintai ‘Aktivisme’ dengan Sederhana

GambarJudul buku          : Aktivisme Sekejap dan Lenyap (Menakar Demoralisasi Mantan Aktivis Mahasiswa)

Penulis                : Dedy Yanwar Elfani

Tebal buku          : 125 halaman; 14,5 x 20,5 cm

Penerbit              : Diandra Pustaka Indonesia

Terbit                 : Maret 2013

Harga                 : Rp 30.000,-

Peresensi          : Ahada Ramadhana *)

“Sinisme masyarakat dengan tuduhan mereka tidak konsisten, pragmatis, syahwat kekuasaan tidaklah proporsional dan terkesan dipaksakan. Sah-sah saja para mantan aktivis mahasiswa berpolitik praktis karena tidak ada aturan moral dan hukum yang melarang. Semua warga negara berhak dan mempunyai kesempatan politik yang sama. Yang bermasalah bukan pada sisi pilihan masuk politik praktis, tapi di mana dia masuk? Bagaimana dia masuk? Dan apa yang diperbuatnya setelah masuk?” Baca lebih lanjut

[BUKU] Jalan yang Harus Ditempuh

GambarJudul Buku       : Ma’alim fi ath-Thariq: Petunjuk Jalan yang Menggetarkan Iman

Penulis             : Sayyid Quthb

Penerbit           : Darul Uswah (kelompok ProU Media)

TahunTerbit     : Cetakan ke-4 (Maret 2012)

Tebal                 : 354 halaman

Peresensi        : Nur Ailin

JUDULNYA “Petunjuk Jalan yang Menggetarkan Iman”, Penerjemahnya mengaku, di bagian pendahuluan buku, bahwa ia merasa tidak sanggup menceritakan buku yang telah menggetarkan iman para pejuang Islam ini. Buku yang ditulis oleh seorang tokoh Ikhwanul Muslimin, Sayyid Qutb, ketika ia masih berada di penjara Nasser dan menunggu detik-detik kesyahidan di tiang gantungan. Baca lebih lanjut